Akhir-akhir ini kita para penggemar batu permata di buat terkagum kagum terhadap begitu besarnya animo masyarakat terhadap batu-batu perhiasan, dimana batu-batu permata atau banyak juga masyarakat yang menyebut batu mulia digunakan untuk perhiasan, antara lain cincin, liontin, anting kepala ikat pinggang dan sebagainya.
Banyak kita bisa temui di keramaian-keramaian jalan, di perkampungan, di sudut-sudut jalan para pedagang ada yang menggunakan lapak ala kadarnya, ada pula yang sudah agak lumayan mewah seperti kios atau ruko di penuhi para penggila batu permata.
Para pedagang itu menyediakan berbagai macam batu-batu perhiasan, dan kebanyakan yang mereka sediakan adalah batu permata berkekerasan rendah.
Antara lain agate atau biasa orang menyebut batu akik, ada pula calcedony atau biasa disebut anggur, ijo garut batu calcedony yang berwarna hijau, dan agate picture dimana orang sering menyebut batu gambar, batu pancawarna batu agate yang memiliki corak seperti lukisan pada batu.
Dan sangat lagi ngetren saat ini atau yang saat ini sedang sering di bicarakan adalah batu bacan atau bahasa internationalnya chrysocolla dan batu permata hijau garut dan bahasa internationalnya green calcedony. Karena namanya sudah garut berarti batu permata tersebut berasal dari daerah garut jawa barat, sedangkan untuk bacan batu tersebut berasal dari daerah halmahera dan di sekitar maluku.
Batu-batu permata atau batu mulia tersebut biasa masih berbentuk bongkahan karena batu-batu permata yang memiliki kekerasan rendah sangat mudah di jumpai di daerah-daerah di indonesia.
Oleh sebab itu para pedagang atau orang yang memiliki lapak tersebut biasanya kerja sama dengan tukang gosok batu, untuk menyesuaikan batu dari bongkahan menjadi bentuk yang diinginkan pelanggan. Ada yang di bentuk cincin ada yang berbentuk liontin dan ada pula yang berbentuk kepala gasper.
Selain itu pedagang juga menyediakan cincin-cincin yang dari perak, dari aloy, dari perak bakar atau biasa disebut perak alpaka.
Sangat beragam sekali yang mereka perbincangkan jika dilihat dari keseluruhan aspek batu permata, ada yang jual beli walaupun antara pengunjung, ada juga yang berdiskusi tentang sejarah batu permata, dan kadang kala memunculkan perdebatan-perdebatan tentang asal usul batu permata, warna, dan yang paling seru adalah perdebatan tentang keaslian batu permata atau batu mulia, dengan saling memberi nama yang berbeda-beda tentang batu permata tersebut.
Disitu otomatis yang akan jadi penengahnya ya pedagang, para pengunjung beranggapan pedagang-pedagang batu-batu permata atau batu-batu mulia itu adalah orang yang sangat cukup mengerti tentang batu permata, jadi tanpa di sadari para pedagang itu secara tidak langsung diangkat jadi jurinya, walaupun sebenarnya mereka itu belum tentu mengerti benar tentang batu permata itu sendiri.
Salam Sejahtera
Jason Rasmoyo